Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

A Day Without Rain

Waktu terus merangkak, bergerak menyentuh berkas cahaya rembulan. Mengemas tiap senja. Menguntai kembali hangat mentari. Tak berhenti. Hingga aku mengetahui, tak ada yang menyeruak di antara sudut hati kita. Tidak sepotong hati sederhana, tidak jua sebongkah rasa. Bisu merajai kita. Diam menemani kita. Senyap melukai kita. Sampai kudapati, hanya ada jarak yang terus membentang, tak mampu dilipat waktu maupun kenang. Jarak terus tercipta tanpa tahu ia menghadirkan luka-luka tak terbaca. Menghasilkan berlembar-lembar rindu yang menebal. Kita bermuara pada satu kata; jauh.
I'll dissolve when the rain pours in

Namun, dalam sekap ketidak-mungkinan yang ada, aku masih menunggu. Walau kutahu menunggumu seperti berusaha menggapi bintang jatuh; terasa nyata, tapi hanya sebuah ilusi semata. Tanya kembali menyelinap di relung kalbu; akankah rasa ini akan lesap bersama hujan yang usai senja ini? Ataukah akan lenyap bersamaan habisnya cangkir teh hangat yang kamu sesap? Tak ada jawab, hanya tanya yang menggantung di udara. Menyisa luka. Tapi, sekali lagi, aku tak pernah lelah.
Potong kenangan tergantung di ruang pikirku. Aku menyadari, kenangan mana yang kumaksud? Bukankah cinta kita hanya sebatas

Aku, Sepayung Kenangan dan Rencana Hujan

Aku cepat-cepat menepikan langkahku di bawah atap salah satu rumah tua yang sudah tak berpenghuni. Titik-titik air yang tiba-tiba tumpah dari awan-awan mendung yang mengandung itu, seakan mengabarkan langit yang lara oleh duka. Lihat saja, tangisnya mendera Bumi begitu lebat. Derasnya tak terkata. Aku pun merapatkan tubuhku dengan pagar berkarat rumah tua itu. Ketika kubalikkan tubuh untuk melihat bagaimana potret rumah tua itu masih bertahan di makan waktu, aku menemukan kenangan mengalir keluar dari balik jendela berkayu reyot itu; aku memucat.
“Apakah ini waktu yang tepat mengulang cerita lama?”
Harusnya kita berdua tahu, tak pernah ada waktu yang tepat. Kenangan itu kejam – ia membuat ingatanmu jatuh cinta pada waktu-waktu yang sudah tertinggal di belakang, dan melumatmu tanpa ampun.
“Kemarin, aku melihat sekelompok anak dengan rok kelabu, berlari-lari kecil keluar dari tenda roti bakar, menerobos hujan yang masih merintik malu-malu. Sama seperti kita di masa lalu,” ujarnya, memulai untai kisah yang menjaringku.
Aku diam – dia tahu akan membisu. Pura-pura kunikmati santap siangku, yang tak tahu kapan

Dongeng 'Pada Suatu Hari'



Pada suatu hari, 
 Perempuan itu menata alat masaknya yang terbuat dari plastik dan berwarna pelangi, dengan apik. Menunggu lelakinya pulang. Sementara itu, ia menyibukkan diri menggunting dedaunan kering yang dijadikannya sayur, menuang beberapa tetes air ke penggorengan alumunium dan menyulapnya jadi minyak, lalu memasak. Menyajikan hidangan terbaiknya. Lalu, sore bersambut dan dibiarkannya senyumnya melayap ke mana saja mengabarkan ia telah sedia dengan rentang peluknya untuk lelaki yang ditunggunya.
Aku terbangun dari tidur siangku – yang memanjang hingga petang menyentuh pangkuan. Dan, aku baru saja bermimpi tentang permainan pangeran-putri yang kerap kumainkan dulu. Kamu tahu, kenangan selalu mengenai masa lalu, tapi ia tak menjadi sepuh hingga melepuh oleh waktu. Seperti saat kamu menemukan potret foto seseorang yang sudah sepia, ia tidak merenta karena lupa, kuningnya justru menunjukkan betapa kenangan tumbuh subur di sana. Dan, sekali lagi olehnya aku diajak kelana menuju silam, kembara kembali pada lampau.
“Siapa ingin jadi putri?”
Itu yang ditanyakan kawanku sebelum memulai permainan. Setiap anak mengacungkan jarinya ke udara. Hatiku mengangguk. Menjadi putri adalah tentang gaun cantik, mahkota di kepala, hidup di kastil, memiliki tujuh kurcaci yang lucu, punya sepatu kaca yang melegenda, sihir ajaib yang mampu menyulap labu jadi kereta kencana dan tikus-tikus jadi kusir yang tampan, ibu peri di sisimu, dan pangeran dengan kuda putihnya.
“Siapa ingin jadi pangeran?”
Itu yang ditawarkan kawanku setelahnya. Setiap anak kembali mengacungkan jarinya ke udara. Hatiku diam. Menjadi pangeran adalah tentang pedang dan parang, melawan naga, misi-misi, belajar tahan dari semburan api, pergi berperang, mencari sepatu kaca yang hilang, menghadapi nenek sihir, ciuman sejati yang mematahkan mantra jahat, dan putri dengan segala perjuangannya.
“Siapa yang siap bermain?”
Itu yang diajak kawanku pada akhirnya. Setiap anak langsung mengacungkan jarinya ke udara, mengggoyang-goyangkannya dan bersorak ria. Hatiku gelisah. Lalu, menjadi putri dan pangeran yang mengekalkan cinta, adalah permainan. Bukankah segalanya adalah permainan, asalkan kamu bisa memainkannya dengan baik dan benar. Dan, saat kamu adalah anak-anak, kamu adalah pemain terbaik – dan kamu tidak akan merusaknya, karena bermain baik dan benar. Kamu menikmatinya; karenanya kamu tidak menghabiskan waktu dalam sia-sia. Itu jenis permainan yang kamu, aku, dan siapapun merinduinya – yang bebas.
Kamu tahu, aku selalu berangan saat-saat itu dihadirkan sekali lagi – waktu ketika kamu bisa menyatakan cinta tanpa berpikir apakah waktunya tepat, perlukah cokelat, haruskah lilin di malam yang romantis, ataukah dandanan sudah sempurna, kamu hanya perlu mengucapkannya untuk mengungkapkan kasih sayang dan lawanmu menerimanya apa adanya dengan ketulusan yang sama – tanpa mempertanyakan hal lainnya yang menggugat.  Waktu ketika kamu bisa mendaratkan ciuman tanpa bergelisah apakah akan menjadi masalah, mengapa harus demikian, mencari alasan yang tepat, kamu hanya perlu memejamkan mata dan mencium keningnya untuk menguraikan jika kamu ingin bisa bermain bersamanya selamanya. Waktu ketika kamu bisa memberikan pelukan tanpa menyelipkan senarai maksud lain yang berbahaya, kamu hanya perlu merentangkan lengan, merangkulnya dalam peluk erat dan melepasnya dengan canda tawa yang terasa bodoh; tapi saat itu dunia hanya milik permainan mereka yang berbahagia. 
"Di dunia anak-anak, dongeng yang berakhir bahagia itu menyulap jadi nyata."
Lamunanku sirna. Panggilan dari luar kamarku untuk segera keluar dan bersiap menyantap makan malam sudah menyahut. Aku beranjak keluar dari kamarku beriringan dengan suara sayup yang kudengar dari dinding belakang rumah; gurau canda dan tawa suara anak-anak yang timbul-tenggelam mengantarkan malam ke peraduannya.
Akhirnya, ibu sihir berhasil dikalahkan. Pangeran pun mengajak putri untuk tinggal di istananya. Mereka hidup bahagia. Selamanya. 
Penulis : Veronica Gabriella
Sumber : http://obamae.blogspot.com/

Gudang

Untuk sebuah ruangan yang terletak paling pencil dan menyudut di rumah kamu, kamu menyebutnya gudang. Biasanya ia dibiarkan berpenerangan remang; dengan cahaya tak tercukupi, juga pengap oleh timbunan debu yang menebal, dan senyapnya diwarnai oleh cicit tikus. Celah yang ada, adalah tempat laba-laba bersarang. Isinya selain dipenuhi stok barang, terkadang juga rumah bagi benda-benda yang terasa sulit dan berat untuk dibuang karena berbagai alasan, dianggap mungkin akan berguna di lain waktu – tapi akhirnya kamu melupakannya dan teronggok menahun di sana. Dan, tanpa kita tahu sejatinya gudang, sesungguhnya seperti tempat tinggalnya kenangan. 
Debu di gudang membuatmu terbatuk. Kenangan di hati kerap menjadikanmu terantuk.
Kamu punya daftar benda-benda yang tua, yang rongsok, yang kamu kira sudah tak berguna lagi saat ini, yang akan terlupa, dan membuangnya ke gudang – sembarang arah, melemparnya begitu saja. Tapi, pilihannya adalah menggudangkannya, bukan menjadikannya sampah di pinggir jalan atau tong-tong berbau busuk. Bahkan, dari gudang, pilihannya bukan pada gerobak sampah – melainkan toko loak, karena yang dijaga dalam gudang setidaknya punya nilai-nilai yang lain. Dan, kita berdua sadar, itu cara yang sama memperlakukan kenangan.
Benda-benda saling beradu siapa paling sepuh di gudang. Ingatan-ingatan saling bertemu siapa paling rapuh di liang luka.
Kamu diam-diam punya senarai kenangan yang purba, yang membuat hati ringsek, yang kamu rasa harusnya ditepikan dibanding mati terlimbur terlalu dalam olehnya, dan kamu menyapunya ke ruang paling hitam dan sepi – berharap ia mati oleh gelap dan dicekik sunyi, seperti sifatnya gudang. Ia menampung tempat debu saling berjejal, dan hewan kecil malam membangun keluarga – ada gudang kecil yang disiapkan hatimu untuk benda bernama kenangan ini. Kamu menaruhnya di gudang, karena tahu, suatu saat kamu akan membutuhkannya – seburuk dan serusak apapun benda itu, kamu hanya tak tahu pasti kapan harus mengambil dan menggunakannya lagi. Tapi yang penting, betapa luka dan lebam yang dimilikinya, ia tetap pernah mendaraskan cinta. Betapa tua dan kuno benda di gudang, ia tetap pernah berguna dan meninggalkan cerita.
Kenangan adalah ingatan yang basahnya begitu purnama. Gudang adalah tempat yang berusaha mengeringkannya.
Buat kamu di sana, terkadang aku ingin menanyakan koleksi benda apa yang kamu miliki di gudang. Mungkin saja ia bisa menunjukkan padaku pertanda kenangan seperti apa yang ingin kamu simpan. 
 
 
Penulis : Veronica Gabriella 
Sumber : http://obamae.blogspot.com/

Rumah Yang Menunggumu Pulang

“…wait for me come home.” – Photograph, Ed Sheeran
Di balik pintu kayu dengan cat hijau yang sudah mengelupas di sisi-sisinya, aku bersembunyi sembari menyarangkan mataku pada seorang pemuda di seberang kompleks perumahan. Pemuda itu tengah membungkukkan tubuhnya di hadapan Ibunya, sembari meraih tangan beliau untuk diciumi punggung tangannya. Arkian, mereka saling menukar peluk dan aku bisa melihat si pemuda berbisik sesuatu, sebelum langkah beratnya bersama tas punggung besar membawanya pergi tanpa berbalik lagi. Itu bisik janji, jika ia akan pulang. Aku dikurung menung cukup lama, sejauh dan selama apapun perjalananmu, pada akhirnya kamu akan pulang. Karena jejak dan tapakmu sejatinya mengelana dalam putaran yang berujung rumah. Terlebih ketika kamu tahu, ada yang sabarnya menunggumu untuk menghadiahimu peluk di selasar rumah.
Hari yang sama; aku ingin mengajakmu berbincang tentang seiris cerita dalam sebuah film*, tentang seorang Ayah tunawisma, seorang wiraniaga (yang dianggap menganggur karena hanya menjual satu alat pemindai kepadatan tulang yang tak laku-laku secara serabutan), ditinggal istrinya, dan harapan yang dimilikinya hanya satu; anak laki-lakinya. Ia tak punya rumah – membuat ia harus berjuang bersama anaknya untuk mencari tempat tinggal. Dan, pinggiran jalan bukan pilihan yang tepat bagi tubuh kecil anaknya. Nyeri, mengetahui akhirnya si Ayah mengunci dirinya dan anaknya di sebuah toilet umum pria, dan menjadikannya sebagai rumah. Setelahnya, si Ayah berjuang kembali mencari suaka yang disediakan pemerintah – terkadang ia mendapatkannya, kadang juga tidak. Tak ada bentuk rumah hangat dengan perapian yang pasti untuk mereka mukimkan. Segalanya terasa tidak pasti, setiap harinya mereka tak tahu kemana harus berpulang. Tapi, yang membuatku berteman dengan air mata di layar kaca adalah cakap sederhana si Ayah pada anaknya; “Apa kamu bahagia bersama Ayah?” Si anak tanpa banyak berpikir, mengangguk dan menjawab iya. “Kalau begitu, baiklah. Itu sudah cukup,” ujar si Ayah. Kamu tahu, mereka memang tidak memiliki rumah; rumah berbata, berdesain interior di dalamnya, berisi perabotan, dan berkeramik pada umumnya – tapi mereka membangun rumah lain; yang pondasinya dibuat lewat letup hangat yang mengudara lewat pelukan, tatap mata yang menggelar jembatan tempat cinta berjalan. Mereka memiliki apapun yang diperlukan untuk membangun utuhnya sebuah rumah. Menjadikan rumah hidup, tempatmu ingin segera pulang.
Dan, hari itu juga, aku menerima kabar ada seseorang lain yang pindah ke rumah lain. Tempat rumahnya jauh, tidak di sini, tidak memiliki alamat pasti, tidak di Bumi, tidak di dunia, tidak di semesta ini. Itu rumah yang tak bernama, tapi kerangkanya, jendela dan pintunya diciptakan dengan penuh sempurna antara seseorang itu dan Tuhan. Kamu bisa menebak seperti apa gambaran rumah itu, indah dan istimewanya begitu maha. Bahkan kamu hanya bisa menyentuhnya lewat daras doa paling hening. Ia berpulang.
Karenanya, kamu tidak mengucapkan selamat tinggal bagi mereka yang berpulang ke rumah Tuhan. Kamu mengatakan selamat jalan, sebab mereka hanya meninggalkan rumah berdinding dan berlantai di dunia, untuk pindah ke rumah baru yang sudah disiapkan Tuhan untuknya. 
Selamat kembali ke rumah; kepada siapapun yang merindukan pulang.  
Untuk seseorang, yang pada matanya, aku kerap tersesat, tapi ia membangun rumah di sana untuk disinggahi dan membantuku menemukan jalan yang benar menuju pulang. Mungkin suatu waktu nanti, setelah letih menapaki jalan yang panjang dan waktu juang yang memilin-milin, kita akan kembali ke rumah, duduk di berandanya dan bercerita tentang serumah kenangan yang mengental bersama bercangkir-cangkir earl grey, atau semangkuk puding. 
*film The Pursuit of Happiness; sangat direkomendasikan!
 
Penulis : Veronica Gabriella
Sumber : http://obamae.blogspot.com/ 

This Street Fill With Memories

Sunyi menimbun ruang ini berlapis-lapis
Ada kalbu yang tak tahu bagaimana menepis
Sukma menangis sedari tadi mengais-ngais
Harapan dan rindu yang begitu hening mendesis
 
Kemarin, sepenggal malam mengajakku menelusuri sebuah jalan raya yang memanjang dan berkelok-kelok hingga ke rumahmu. Suara kendaraan yang melaju cepat nan lesat, menembus sunyi yang mulai menyetubuhi jalan beraspal. Mereka; menjadikan jalan raya tempat kita berdua menyimpan cerita di tubuh hari-hari sebagai ajang balap – membalap. Tak tahu jua kita, jikalau kita pun saling menderukan mesin dan berlomba; layaknya kontes, siapakah paling cepat yang mampu membunuh rasa.
Aku membelah jalanan yang mulai lenggang dengan perlahan. Mataku sampai pada tepian jalan, dekat arus kali besar yang sempat kita lewati berdua di kala hujan mengguyur kota. Kamu tertawa karena aku terus mengomel ketika air kali itu meluap dan memandikan kaki-kakiku. Lantas, kita mencari bahu jalan yang lebih tinggi, dekat dengan lampu merah yang menyala nyalang, berdiri di sana dan mencumbui bisu kita berdua. Menekan rasa yang mungkin saja bergejolak hingga kita bertindak bodoh. Maka kita memilih diam, menyekat kata dari pita suara sampai bungkam. Tapi aku tahu, lewat mata jenakamu yang terlempar ke sana- ke mari, kita berbicara lebih banyak dibanding kalimat-kalimat yang bisa diuntai kata.
Bayangku pernah di sana. Dan aku tahu, biarpun debu dan asap memeluk tubuhku dan memain-mainkan anak rambutku, setidaknya pernah ada kamu di sampingku; yang sempat mengubah lalu lalang kendaraan bersuara bising menganggu, menjadi tempat menaruh bisik-bisik harapan rasa yang tak kita sentuh.
Belokkan pertama menjadi pilihanku. Rasanya seperti pertanda jika akan ada pusaran besar yang menarik kita berdua masuk. Tapi kamu punya lebih banyak pilihan dibandingku; tetap tinggal dan terbunuh bersamaku, ataukah kembali pada perempuan bermafela salju dengan dress merah jambu berpolkadot. Alih-alih memilih keduanya – kamu justru memilih persimpangan lain, berupa rumah masa lalumu. Aku berteriak memanggilmu di pusaran gelap, bermegap-megap, sesak dan setengah merangkak; “terlalu dungu untuk kembali pada luka-luka lampau yang hanya mampu membelenggumu dalam harapan semu. Angan dan lalu tak akan bersatu”.
Pernahkah kubilang padamu? Jalan dari tempat kita menimba canda tawa dan mendulang air mata hingga ke rumah persinggahanmu selama tahunan ini, adalah jalan yang dilumuri kenangan. Hinga berhasil membuatku terseok-seok setiap kali melewatinya. Belum lagi, malam-malam yang sendiri nan sulit harus kulalui dengan mimpi-mimpi hening akanmu.
Nyatanya, hanya aku yang berusaha mengetuk-ngetuk labirin hati yang sudah membeku.
 
 
Penulis : Veronica Gabriella
Sumber : http://www.obamae.blogspot.com