Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

A Day Without Rain

Waktu terus merangkak, bergerak menyentuh berkas cahaya rembulan. Mengemas tiap senja. Menguntai kembali hangat mentari. Tak berhenti. Hingga aku mengetahui, tak ada yang menyeruak di antara sudut hati kita. Tidak sepotong hati sederhana, tidak jua sebongkah rasa. Bisu merajai kita. Diam menemani kita. Senyap melukai kita. Sampai kudapati, hanya ada jarak yang terus membentang, tak mampu dilipat waktu maupun kenang. Jarak terus tercipta tanpa tahu ia menghadirkan luka-luka tak terbaca. Menghasilkan berlembar-lembar rindu yang menebal. Kita bermuara pada satu kata; jauh.
I'll dissolve when the rain pours in

Namun, dalam sekap ketidak-mungkinan yang ada, aku masih menunggu. Walau kutahu menunggumu seperti berusaha menggapi bintang jatuh; terasa nyata, tapi hanya sebuah ilusi semata. Tanya kembali menyelinap di relung kalbu; akankah rasa ini akan lesap bersama hujan yang usai senja ini? Ataukah akan lenyap bersamaan habisnya cangkir teh hangat yang kamu sesap? Tak ada jawab, hanya tanya yang menggantung di udara. Menyisa luka. Tapi, sekali lagi, aku tak pernah lelah.
Potong kenangan tergantung di ruang pikirku. Aku menyadari, kenangan mana yang kumaksud? Bukankah cinta kita hanya sebatas

Aku, Sepayung Kenangan dan Rencana Hujan

Aku cepat-cepat menepikan langkahku di bawah atap salah satu rumah tua yang sudah tak berpenghuni. Titik-titik air yang tiba-tiba tumpah dari awan-awan mendung yang mengandung itu, seakan mengabarkan langit yang lara oleh duka. Lihat saja, tangisnya mendera Bumi begitu lebat. Derasnya tak terkata. Aku pun merapatkan tubuhku dengan pagar berkarat rumah tua itu. Ketika kubalikkan tubuh untuk melihat bagaimana potret rumah tua itu masih bertahan di makan waktu, aku menemukan kenangan mengalir keluar dari balik jendela berkayu reyot itu; aku memucat.
“Apakah ini waktu yang tepat mengulang cerita lama?”
Harusnya kita berdua tahu, tak pernah ada waktu yang tepat. Kenangan itu kejam – ia membuat ingatanmu jatuh cinta pada waktu-waktu yang sudah tertinggal di belakang, dan melumatmu tanpa ampun.
“Kemarin, aku melihat sekelompok anak dengan rok kelabu, berlari-lari kecil keluar dari tenda roti bakar, menerobos hujan yang masih merintik malu-malu. Sama seperti kita di masa lalu,” ujarnya, memulai untai kisah yang menjaringku.
Aku diam – dia tahu akan membisu. Pura-pura kunikmati santap siangku, yang tak tahu kapan

Dongeng 'Pada Suatu Hari'



Pada suatu hari, 
 Perempuan itu menata alat masaknya yang terbuat dari plastik dan berwarna pelangi, dengan apik. Menunggu lelakinya pulang. Sementara itu, ia menyibukkan diri menggunting dedaunan kering yang dijadikannya sayur, menuang beberapa tetes air ke penggorengan alumunium dan menyulapnya jadi minyak, lalu memasak. Menyajikan hidangan terbaiknya. Lalu, sore bersambut dan dibiarkannya senyumnya melayap ke mana saja mengabarkan ia telah sedia dengan rentang peluknya untuk lelaki yang ditunggunya.
Aku terbangun dari tidur siangku – yang memanjang hingga petang menyentuh pangkuan. Dan, aku baru saja bermimpi tentang permainan pangeran-putri yang kerap kumainkan dulu. Kamu tahu, kenangan selalu mengenai masa lalu, tapi ia tak menjadi sepuh hingga melepuh oleh waktu. Seperti saat kamu menemukan potret foto seseorang yang sudah sepia, ia tidak merenta karena lupa, kuningnya justru menunjukkan betapa kenangan tumbuh subur di sana. Dan, sekali lagi olehnya aku diajak kelana menuju silam, kembara kembali pada lampau.
“Siapa ingin jadi putri?”
Itu yang ditanyakan kawanku sebelum memulai permainan. Setiap anak mengacungkan jarinya ke udara. Hatiku mengangguk. Menjadi putri adalah tentang gaun cantik, mahkota di kepala, hidup di kastil, memiliki tujuh kurcaci yang lucu, punya sepatu kaca yang melegenda, sihir ajaib yang mampu menyulap labu jadi kereta kencana dan tikus-tikus jadi kusir yang tampan, ibu peri di sisimu, dan pangeran dengan kuda putihnya.
“Siapa ingin jadi pangeran?”
Itu yang ditawarkan kawanku setelahnya. Setiap anak kembali mengacungkan jarinya ke udara. Hatiku diam. Menjadi pangeran adalah tentang pedang dan parang, melawan naga, misi-misi, belajar tahan dari semburan api, pergi berperang, mencari sepatu kaca yang hilang, menghadapi nenek sihir, ciuman sejati yang mematahkan mantra jahat, dan putri dengan segala perjuangannya.
“Siapa yang siap bermain?”
Itu yang diajak kawanku pada akhirnya. Setiap anak langsung mengacungkan jarinya ke udara, mengggoyang-goyangkannya dan bersorak ria. Hatiku gelisah. Lalu, menjadi putri dan pangeran yang mengekalkan cinta, adalah permainan. Bukankah segalanya adalah permainan, asalkan kamu bisa memainkannya dengan baik dan benar. Dan, saat kamu adalah anak-anak, kamu adalah pemain terbaik – dan kamu tidak akan merusaknya, karena bermain baik dan benar. Kamu menikmatinya; karenanya kamu tidak menghabiskan waktu dalam sia-sia. Itu jenis permainan yang kamu, aku, dan siapapun merinduinya – yang bebas.
Kamu tahu, aku selalu berangan saat-saat itu dihadirkan sekali lagi – waktu ketika kamu bisa menyatakan cinta tanpa berpikir apakah waktunya tepat, perlukah cokelat, haruskah lilin di malam yang romantis, ataukah dandanan sudah sempurna, kamu hanya perlu mengucapkannya untuk mengungkapkan kasih sayang dan lawanmu menerimanya apa adanya dengan ketulusan yang sama – tanpa mempertanyakan hal lainnya yang menggugat.  Waktu ketika kamu bisa mendaratkan ciuman tanpa bergelisah apakah akan menjadi masalah, mengapa harus demikian, mencari alasan yang tepat, kamu hanya perlu memejamkan mata dan mencium keningnya untuk menguraikan jika kamu ingin bisa bermain bersamanya selamanya. Waktu ketika kamu bisa memberikan pelukan tanpa menyelipkan senarai maksud lain yang berbahaya, kamu hanya perlu merentangkan lengan, merangkulnya dalam peluk erat dan melepasnya dengan canda tawa yang terasa bodoh; tapi saat itu dunia hanya milik permainan mereka yang berbahagia. 
"Di dunia anak-anak, dongeng yang berakhir bahagia itu menyulap jadi nyata."
Lamunanku sirna. Panggilan dari luar kamarku untuk segera keluar dan bersiap menyantap makan malam sudah menyahut. Aku beranjak keluar dari kamarku beriringan dengan suara sayup yang kudengar dari dinding belakang rumah; gurau canda dan tawa suara anak-anak yang timbul-tenggelam mengantarkan malam ke peraduannya.
Akhirnya, ibu sihir berhasil dikalahkan. Pangeran pun mengajak putri untuk tinggal di istananya. Mereka hidup bahagia. Selamanya. 
Penulis : Veronica Gabriella
Sumber : http://obamae.blogspot.com/

Gudang

Untuk sebuah ruangan yang terletak paling pencil dan menyudut di rumah kamu, kamu menyebutnya gudang. Biasanya ia dibiarkan berpenerangan remang; dengan cahaya tak tercukupi, juga pengap oleh timbunan debu yang menebal, dan senyapnya diwarnai oleh cicit tikus. Celah yang ada, adalah tempat laba-laba bersarang. Isinya selain dipenuhi stok barang, terkadang juga rumah bagi benda-benda yang terasa sulit dan berat untuk dibuang karena berbagai alasan, dianggap mungkin akan berguna di lain waktu – tapi akhirnya kamu melupakannya dan teronggok menahun di sana. Dan, tanpa kita tahu sejatinya gudang, sesungguhnya seperti tempat tinggalnya kenangan. 
Debu di gudang membuatmu terbatuk. Kenangan di hati kerap menjadikanmu terantuk.
Kamu punya daftar benda-benda yang tua, yang rongsok, yang kamu kira sudah tak berguna lagi saat ini, yang akan terlupa, dan membuangnya ke gudang – sembarang arah, melemparnya begitu saja. Tapi, pilihannya adalah menggudangkannya, bukan menjadikannya sampah di pinggir jalan atau tong-tong berbau busuk. Bahkan, dari gudang, pilihannya bukan pada gerobak sampah – melainkan toko loak, karena yang dijaga dalam gudang setidaknya punya nilai-nilai yang lain. Dan, kita berdua sadar, itu cara yang sama memperlakukan kenangan.
Benda-benda saling beradu siapa paling sepuh di gudang. Ingatan-ingatan saling bertemu siapa paling rapuh di liang luka.
Kamu diam-diam punya senarai kenangan yang purba, yang membuat hati ringsek, yang kamu rasa harusnya ditepikan dibanding mati terlimbur terlalu dalam olehnya, dan kamu menyapunya ke ruang paling hitam dan sepi – berharap ia mati oleh gelap dan dicekik sunyi, seperti sifatnya gudang. Ia menampung tempat debu saling berjejal, dan hewan kecil malam membangun keluarga – ada gudang kecil yang disiapkan hatimu untuk benda bernama kenangan ini. Kamu menaruhnya di gudang, karena tahu, suatu saat kamu akan membutuhkannya – seburuk dan serusak apapun benda itu, kamu hanya tak tahu pasti kapan harus mengambil dan menggunakannya lagi. Tapi yang penting, betapa luka dan lebam yang dimilikinya, ia tetap pernah mendaraskan cinta. Betapa tua dan kuno benda di gudang, ia tetap pernah berguna dan meninggalkan cerita.
Kenangan adalah ingatan yang basahnya begitu purnama. Gudang adalah tempat yang berusaha mengeringkannya.
Buat kamu di sana, terkadang aku ingin menanyakan koleksi benda apa yang kamu miliki di gudang. Mungkin saja ia bisa menunjukkan padaku pertanda kenangan seperti apa yang ingin kamu simpan. 
 
 
Penulis : Veronica Gabriella 
Sumber : http://obamae.blogspot.com/

Rumah Yang Menunggumu Pulang

“…wait for me come home.” – Photograph, Ed Sheeran
Di balik pintu kayu dengan cat hijau yang sudah mengelupas di sisi-sisinya, aku bersembunyi sembari menyarangkan mataku pada seorang pemuda di seberang kompleks perumahan. Pemuda itu tengah membungkukkan tubuhnya di hadapan Ibunya, sembari meraih tangan beliau untuk diciumi punggung tangannya. Arkian, mereka saling menukar peluk dan aku bisa melihat si pemuda berbisik sesuatu, sebelum langkah beratnya bersama tas punggung besar membawanya pergi tanpa berbalik lagi. Itu bisik janji, jika ia akan pulang. Aku dikurung menung cukup lama, sejauh dan selama apapun perjalananmu, pada akhirnya kamu akan pulang. Karena jejak dan tapakmu sejatinya mengelana dalam putaran yang berujung rumah. Terlebih ketika kamu tahu, ada yang sabarnya menunggumu untuk menghadiahimu peluk di selasar rumah.
Hari yang sama; aku ingin mengajakmu berbincang tentang seiris cerita dalam sebuah film*, tentang seorang Ayah tunawisma, seorang wiraniaga (yang dianggap menganggur karena hanya menjual satu alat pemindai kepadatan tulang yang tak laku-laku secara serabutan), ditinggal istrinya, dan harapan yang dimilikinya hanya satu; anak laki-lakinya. Ia tak punya rumah – membuat ia harus berjuang bersama anaknya untuk mencari tempat tinggal. Dan, pinggiran jalan bukan pilihan yang tepat bagi tubuh kecil anaknya. Nyeri, mengetahui akhirnya si Ayah mengunci dirinya dan anaknya di sebuah toilet umum pria, dan menjadikannya sebagai rumah. Setelahnya, si Ayah berjuang kembali mencari suaka yang disediakan pemerintah – terkadang ia mendapatkannya, kadang juga tidak. Tak ada bentuk rumah hangat dengan perapian yang pasti untuk mereka mukimkan. Segalanya terasa tidak pasti, setiap harinya mereka tak tahu kemana harus berpulang. Tapi, yang membuatku berteman dengan air mata di layar kaca adalah cakap sederhana si Ayah pada anaknya; “Apa kamu bahagia bersama Ayah?” Si anak tanpa banyak berpikir, mengangguk dan menjawab iya. “Kalau begitu, baiklah. Itu sudah cukup,” ujar si Ayah. Kamu tahu, mereka memang tidak memiliki rumah; rumah berbata, berdesain interior di dalamnya, berisi perabotan, dan berkeramik pada umumnya – tapi mereka membangun rumah lain; yang pondasinya dibuat lewat letup hangat yang mengudara lewat pelukan, tatap mata yang menggelar jembatan tempat cinta berjalan. Mereka memiliki apapun yang diperlukan untuk membangun utuhnya sebuah rumah. Menjadikan rumah hidup, tempatmu ingin segera pulang.
Dan, hari itu juga, aku menerima kabar ada seseorang lain yang pindah ke rumah lain. Tempat rumahnya jauh, tidak di sini, tidak memiliki alamat pasti, tidak di Bumi, tidak di dunia, tidak di semesta ini. Itu rumah yang tak bernama, tapi kerangkanya, jendela dan pintunya diciptakan dengan penuh sempurna antara seseorang itu dan Tuhan. Kamu bisa menebak seperti apa gambaran rumah itu, indah dan istimewanya begitu maha. Bahkan kamu hanya bisa menyentuhnya lewat daras doa paling hening. Ia berpulang.
Karenanya, kamu tidak mengucapkan selamat tinggal bagi mereka yang berpulang ke rumah Tuhan. Kamu mengatakan selamat jalan, sebab mereka hanya meninggalkan rumah berdinding dan berlantai di dunia, untuk pindah ke rumah baru yang sudah disiapkan Tuhan untuknya. 
Selamat kembali ke rumah; kepada siapapun yang merindukan pulang.  
Untuk seseorang, yang pada matanya, aku kerap tersesat, tapi ia membangun rumah di sana untuk disinggahi dan membantuku menemukan jalan yang benar menuju pulang. Mungkin suatu waktu nanti, setelah letih menapaki jalan yang panjang dan waktu juang yang memilin-milin, kita akan kembali ke rumah, duduk di berandanya dan bercerita tentang serumah kenangan yang mengental bersama bercangkir-cangkir earl grey, atau semangkuk puding. 
*film The Pursuit of Happiness; sangat direkomendasikan!
 
Penulis : Veronica Gabriella
Sumber : http://obamae.blogspot.com/ 

This Street Fill With Memories

Sunyi menimbun ruang ini berlapis-lapis
Ada kalbu yang tak tahu bagaimana menepis
Sukma menangis sedari tadi mengais-ngais
Harapan dan rindu yang begitu hening mendesis
 
Kemarin, sepenggal malam mengajakku menelusuri sebuah jalan raya yang memanjang dan berkelok-kelok hingga ke rumahmu. Suara kendaraan yang melaju cepat nan lesat, menembus sunyi yang mulai menyetubuhi jalan beraspal. Mereka; menjadikan jalan raya tempat kita berdua menyimpan cerita di tubuh hari-hari sebagai ajang balap – membalap. Tak tahu jua kita, jikalau kita pun saling menderukan mesin dan berlomba; layaknya kontes, siapakah paling cepat yang mampu membunuh rasa.
Aku membelah jalanan yang mulai lenggang dengan perlahan. Mataku sampai pada tepian jalan, dekat arus kali besar yang sempat kita lewati berdua di kala hujan mengguyur kota. Kamu tertawa karena aku terus mengomel ketika air kali itu meluap dan memandikan kaki-kakiku. Lantas, kita mencari bahu jalan yang lebih tinggi, dekat dengan lampu merah yang menyala nyalang, berdiri di sana dan mencumbui bisu kita berdua. Menekan rasa yang mungkin saja bergejolak hingga kita bertindak bodoh. Maka kita memilih diam, menyekat kata dari pita suara sampai bungkam. Tapi aku tahu, lewat mata jenakamu yang terlempar ke sana- ke mari, kita berbicara lebih banyak dibanding kalimat-kalimat yang bisa diuntai kata.
Bayangku pernah di sana. Dan aku tahu, biarpun debu dan asap memeluk tubuhku dan memain-mainkan anak rambutku, setidaknya pernah ada kamu di sampingku; yang sempat mengubah lalu lalang kendaraan bersuara bising menganggu, menjadi tempat menaruh bisik-bisik harapan rasa yang tak kita sentuh.
Belokkan pertama menjadi pilihanku. Rasanya seperti pertanda jika akan ada pusaran besar yang menarik kita berdua masuk. Tapi kamu punya lebih banyak pilihan dibandingku; tetap tinggal dan terbunuh bersamaku, ataukah kembali pada perempuan bermafela salju dengan dress merah jambu berpolkadot. Alih-alih memilih keduanya – kamu justru memilih persimpangan lain, berupa rumah masa lalumu. Aku berteriak memanggilmu di pusaran gelap, bermegap-megap, sesak dan setengah merangkak; “terlalu dungu untuk kembali pada luka-luka lampau yang hanya mampu membelenggumu dalam harapan semu. Angan dan lalu tak akan bersatu”.
Pernahkah kubilang padamu? Jalan dari tempat kita menimba canda tawa dan mendulang air mata hingga ke rumah persinggahanmu selama tahunan ini, adalah jalan yang dilumuri kenangan. Hinga berhasil membuatku terseok-seok setiap kali melewatinya. Belum lagi, malam-malam yang sendiri nan sulit harus kulalui dengan mimpi-mimpi hening akanmu.
Nyatanya, hanya aku yang berusaha mengetuk-ngetuk labirin hati yang sudah membeku.
 
 
Penulis : Veronica Gabriella
Sumber : http://www.obamae.blogspot.com

Slipping Away

Aku bertemu dengannya kemarin – perempuan bermafela salju. Rasanya aku tahu apa yang membuatmu jatuh padanya. Dia duduk di sebuah resto kecil, mengenakan sweater ungu dan tidak memesan makanan apapun, sepertinya dia menunggui kawan-kawannya. Jari jemari lentiknya sedang mengutak-atik ponsel layar sentuhnya. Lalu, seorang lelaki berpotongan rambut spike acak-acakkan, yang duduk di belakangnya mulai mengajaknya berbincang. Dan, jika saja kamu ada di sini, bersamaku melihatnya, aku yakin kamu akan berbisik putus asa padaku. Sekali lagi kamu terlambat, maka perempuan bermafela salju itu akan berpindah pada lelaki musim lainnya.
Tapi, aku juga bertemu denganmu kemarin – lelaki bermata jenaka. Dan, rasanya aku tahu apa yang membuatku jatuh padamu. Kamu tenggelam di antara kawanan teman-temanmu, kita saling tersenyum dan aku berusaha memanggil namamu berulang-ulang.
Aku berangan-angan jika saja kamu tahu mengapa.
Karena aku menyukai waktu-waktu ketika aku lepas dari perhatianku sendiri dan terjebak dalam kurungan matamu.
Karena aku terbelenggu olehmu dalam ruang-ruang kenang yang begitu hening.
Karena aku merindukan senyum kecilmu yang penuh, pengalahan-pengalahanmu dan perhatian-perhatian kecil yang kita tukar tanpa harus kita sadari mengapa.
Karena aku pernah berpikir untuk mengenakan gaun putih dimana kamu berdiri di sampingku, memberi sebulat cincin sederhana.
Karena aku sempat mencintaimu.
Dan, karena itu pula, karena itu, karena pula…
Karena-nya, aku menekan itu semua. Membuang angan mengambang yang terombang-ambing itu satu persatu. Menyingkirkan kelebat bayang akan kebersamaan kita.
Tapi, ada satu yang tak pernah hapus dari album kalbu kita yang untukmu akan usai sejenak lagi:.
Tentang kegilaanku.
Yang salah satunya; mencintaimu diam-diam. Sekali lagi.
 
Penulis : Veronica Gabriella
Sumber : http://www.obamae.blogspot.com

IBD Bab 11 : Manusia dan Harapan

Manusia dan Harapan 


Daftar Isi

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Harapan 
2.2 Apa Sebab Manusia Mempunyai Harapan 
2.3 Kepercayaan 
2.4 Berbagai Kepercayaan dan Usaha Mengingatkannya 
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran


BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Setiap manusia mempunyai harapan yang berbeda-beda. Manusia tanpa adanya harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan itu sendiri. Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi, sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan kita.
Harapan berasal dan kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk, sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang. Harapan bukan hanya terucap dari mulut saja melain dan dengan usaha dan doa, tanpa usaha dan doa pasti harapan terbuang dengan sia-sia. Harapan juga, harus dibarengi oleh rasa optimis karena optimis adalah factor mengharapkan sesuatu yang terbaik dari situasi tertentu.
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Harapan 

            Setiap manusia mempunyai  harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam bidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya.
            Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing.   Misalnya, Budi yang hanya mampu membeli sepeda, biasanya tidak mempunyai harapan untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai harapan yang bcrlebihan tentu menjadi buah tertawaan orang banyak, atau orang itu seperti peribahasa “Si pungguk merindukan bulan”
            Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan, misalnya Rafiq mengharapkan nilai A dalam ujian yang akan datang, tetapi tidak ada usaha, tidak pemah hadir kuliah. Ia menghadapi ujian dengan santai. Bagaimana Rafiq memperoleh nilai A, lulus pun mungkin tidak.
            Harapan harus berdasarkan  kepercayaan,  baik kepercayaan  pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan  Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh.   Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
            Harapan  berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan  berarti sesuatu yang diinginkan  dapat terjadi, Dengan demikian  harapan menyangkut masa  depan.
Contoh:
* Budi  seorang  mahasiswa  STMIK  Gunadarrna,  ia rajin belajar  dengan  harapan  didalam ujian  semester  mendapatkan   angka  yang baik
* Hadir  seorang  wiraswasta  yang rajin.  Sejak mulai  menggarap  usahanya  ia mempunyai harapan  usahanya  menjadi  besar dan maju. Ia yakin usahanya menjadi kenyataan,karena itu berusaha  bersungguh-sungguh   dengan  usahanya.
            Dari  kedua  contoh  itu terlihat,  apa yang diharapkan  Budi  dan  Hadir  ialah  teljadinya buah  keinginan.  karena  itu mereka  bekerja  keras.  Budi  belajar  tanpa  mengenal  waktu  dan Hadir bekerja tanpa mengenallelah.   Semuanya itu dengan suatu keyakinan  demi terwujudnya apa yang diharapkan.       Jadi untuk mewujudkan  harapan  itu harus disertai  dengan  usaha  yang sesuai  dengan   apa  yang  diharapkan   BHa dibandingkan   dengan  cita-cita   , maka  harapan mengandung  pengertian  tidak  terlalu muluk: sedangkan eita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang.  Antar  harapan  dan  cita-cita  terdapat  persamaam  yaitu  :
*   keduanya  menyangkut  masa  depan  karena  belurn terwujud
* pada  urnurnnya  dengan  cita-cita  maupun  harapan  orang  menginginkan   hal  yang  lebih baik  atau meningkat.

2.2 Apa Sebab Manusia Mempunyai Harapan 

            Menurut  kodratnya  manusia  itu adalah mahluk  sosial. Setiap lahir ke dunia langusung disambut dalam suatu pergaulan hidup. yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya.  Tidak  ada  satu  manusiapun   yang  luput  dari  pergaulan  hidup.  Ditengah-tengah manusia lain itulah, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun  mental! spiritualnya.  Ada dua hal yang mendorong  orang hidup bergaul dengan  manusia  lain. yakni dorongan  kodrat  dan dorongan  kebutuhan  hidup.
Dorongan  kodrat
            Kodrat ialah sitar, keadaan  atau pembawaan  alamiah  yang sudah terjelma  dalam  diri manusia  sejak manusia  itu diciptakan  oleh Tuhan.Misalnya  menangis,  bergembira,  berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan   dan  scbagainya. Setiap manusia  mempunyai kemampuan untuk itu semua.
            Dorongan  kodrat menyebabkan manusia mempunyai  keinginan  atau harapan,  misalnya menangis, tertawa, bergembira dan  sebagainya. Seperti   halnya  orang   yang  menonton Pertunjukan  lawak, mereka ingin tertawa, pelawak juga mengharapkan agar penonton  tertawa terbahak-bahak.   Apabila  penonton  tidak  tertawa,  harapan  kedua  belah  pihak  gagal,  justru sedihlah  mereka.
            Kodrat  juga   terdapat   pada  binatang   dan  tumbuh-tumbuhan, karena  binatang  dan tumbuhan  perlu makan, berkembang  biak dan mati. Yang mirip dengan  kodrat manusia  ialah kodrat  binatang. walau  bagaimanapun   juga  besar  sekali  perbedaannya.   Perbedaan   antara kedua  mahluk   itu,  ialah  bahwa  manusia   memiliki  budi  dan  kehendak,   Budi  ialah  akal, kemampuan  untuk memilih.  Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan,  sebab bila orang akan memilih,  ia harus mengetahui  lebih dahulu barang yang dipilihnya.  Dengan  budinya  manusia dapat  mengetahui  mana  yang baik dan mana  yang buruk,  mana  yang benar dan mana  yang salah,  dan  dengan  kehendaknya  manusia  dapat  memilih.
            Dalam  diri  manusia  masing-masing sudah  terjelma   sifat,  kodrat pembawaan  dan kemampuan   untuk hidup bergaul, hidup berrnasyarakat  atau hidup bcrsama dengan  manusia lain. Dengan  kodrat  ini, maka  manusia  mempunyai  harapan.
Dorongan  kebutuhan  hidup
            Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bermacam-macam  kebutuhan hidup. Kebutuhan   hidup  itu  pada  garis  besarnya  dapat  dibedakan menjadi  kebutuhan  jasmani   dan kebutuhan  rohani. Kebutuhan  jasmaniah  misalnya  : makan,  minum.  pakaian,  rumah.  (sandang,  pangan. dan  papan).  ketenangan,  hiburan,  dan keberhasilan.
            Untuk  memenuhi   semua  kebutuhan  itu manusia  bekerja  sama  dengan  manusia  lain. Hal  ini disebabkan.  kemampuan  manusia  sangat terbatas,  baik  kemampuan   fisik/jasmaniah maupun  kemampuan   berpikirnya.
            Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut  Abraham  Maslow  sesuai dengan kodratnya  harapan  manusia  atau kebutuhan manusia  itu ialah  :
a)    kelangsungan   hidup  (survival)
b)    keamanan  ( safety)
c)     hak  dan  kewajiban  mencintai  dan  dicintai  (beloving  and love)
d)    diakui  lingkungan  (status)
e)    perwujudan   cita-cita (self actualization)
Kelangsungan  hidup  (survival)
            Untuk melangsungkan  hidupnya  manusia membutuhkan  sandang, pangan  dan papan(tempat  tinggal). Kebutuhan  kelangsungan  hidup  ini terlihat  sejak  bayi lahir.
            Setiap  bayi  begitu  lahir  di  bumi  menangis;  ia  telah  mengharapkan   diberi  makan/ minum.  Kebutuhan  akan makan/minum   ini terus berkembang  sesuai  dengan  perkembangan hidup  manusia
Sandang,  semula  hanya berupa perlindungan/keamanan,   untuk  melindungi  dirinya  dari cuaca.  Tetapi  dalam  perkembangan   hidupnya,  sandang  tidak  hanya  sebagai  perlindungan kemanan,  tetapi  lebih  cendenmg  kepada  kebutuhan  lain.
            Papan  yang  dimaksud  adalah  tempat  tinggal  atau  rumah.  Rumah  kebutuhan   primer manusia,  karena  rumah  itu sebagai  tempat berlindung,  dari panas,  gelap,  dan  sebagainya.
            Untuk  mencukupi  kebutuhan  pangan,  sandang,  dan  papan  itu, maka  manusia  sejak kecil  telah  mulai  belajar.  Dengan  pengetahuan   yang  tinggi  harapan  memperolleh   pangan, sandang,  dan papan  yang layak  akan terpenuhi.  Atau tiap manusia  perlu kerja keras dengan harapan  apa  yang  diinginkan  : pangan,  sandang  dan papan  yang  layak  terpenuhi.
Keamanan
            Setiap orang membutuhkan  keamanan.Sejak seorang anak lahir ia telah membutuhkan keamanan.  Begitu  lahir, dengan  suara tangis, itu pertanda  minta perlindungan. Setelah agak besar,  setiap  anak menangis  dia akan diam  setelah dipeluk  oleh  ibunya.  Setelah  bertambah besar  ia ingin  dilindungi.  Rasa  aman    tidak harus  diwujudkan   dengan  perlindungan  yang nampak, secara moral pun orang lain dapat memberi  rasa aman. Dalam  hal ini agama  sering merupakan cara memperoleh    kemanan   moril  bagi  pemiliknya. Walaupun  secara fisik keadaannya  dalam  bahaya, keyakinan  bahwa Tuhan memberikan  perlindungan  berarti sudah memberikan   keamanan  yang diharapkan.
Hak  dan  kewajiban mencintai dan dicintai
            Tiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan manusia maka tumbuh pula kesadaran akan hak dan kewajiban.Karenaitu tidakjarang anak-anak remaja mengatakan kepada ayah atau ibu. “Ibu ini kok menganggap Reny masih keeil saja, semua diatur!” ltu suatu pertanda bahwa anak  itu telah tambah kesadaran akan hak dan kewajibannya.
            Bila seorang telah menginjak dewasa, maka ia merasa sudah dewasa, sehingga sudah saatnya mempunyai harapan untuk dicintai dan mencintai.Pada saat seperti ini remaja banyak mengkhayal. Ia telah sadar akan keberadaannya.Pada usia itu, biasanya terjadi konflik batin pada dirinya dengan pihak orang tua. Sebab umumnya remaja mulai menentang sifat-sifat orang tua yang dianggap tidak sesuai dengan alamnya.
Status
            Setiap manusia membutuhkanstatus. Siapa, untuk apa, mengapa manusia hidup. Dalam lagu “untuk apa” ada lirik yang berbunyi “aku ini anak siapa, mengapa aku ini dilahirkan”, Dari bagian lirik itu kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa setiap manusia yang lahir di bwni  ini tentu akan bertanya tentang statusnya. Status keberadaannya. Status dalam keluarga, status dalam masyarakat, dan status dalam negara. Status itu penting, karena dengan status orang tahu siapa dia Harga diri orang antara lain melekat pada status orang.itu. Misalnya ada anak haram, biarpun anak haram itu tingkah lakunya baik dan tidak berdosa sebab yang berdosa orang tuanya, namun masyarakat tetap memberikan cap yang negatif. Bahkan ada orang yang berpendapat jangan memberi makan/pertolongan kepada anak jadah (haram). Alangkah kejamnya manusia itu dengan adanya harapan untuk memperoleh status ini berarti orang menguasai hak milik nama baik, ingin berprestasi, ingin mengingkatkan harga diri, dan sebagainya
Perwujudan  cita-cita
            Selanjutnya manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau kepangakatannya  atau profesinya. Pada  saar itu manusia mengembangkan  bakat  atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.

2.3 Kepercayaan 

            Kepercayaan berasal dari kata percaya. Artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Ada ucapan yang sering kita dengar ia tidak percaya pada diri sendiri saya tidak percaya ia berbuat seperti itu atau berita itu kurang dapat dipercaya. Bagaimana juga kita harus percaya kepada pemerintah kita harus percaya akan nasehat-nasehat kyai itu, karena nasehat-nasehat itu diambil dari ajaran Al-Quran.
            Dengan contoh berbagai kalimat yang sering kita dengan dalam ucapan sehari-hari itu, maka jelaslah kepada kita, bahwa dasar kepercayaan itu adalah kebenaran.
            Ada jenis  pengetahuan  yang dimiliki seseorang. bukan  karena  merupakan  hasil penyelidikan sendiri, melainkan diterima dari orang lain. Kebenaran pengetahuan yang didasarkan atas orang lain itu disebabkan karena orang lain itu dapat dipercaya. Yang diselidiki bukan lagi masalahnya. melainkan orang yang memberitahukan itu dapat dipercaya atau tidak. Pengetahuan yang diterima dari orang lain atas kewibawaann yaitu disebut kepercayaan. Makin  besar  kewibawaan yang memberitahu mengenai pengetahuan  itu makin  besar kepercayaan.
Dalam agama terdapat kebenaran-kebenaran yang dianggap diwahyukan  artinya diberitahukan oleh Tuhan – langsung atau tidak langsung kepada manusia. Kewibawaan pemberi kebenaran itu ada yang melebihi besamya . Kepercayaan dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Hak berpikir bebas, hak atas keyakinan sendiri menimbulkan juga hak bcr agama menurut keyakinan.
            Dalam hal beragama tiap-tiap orang wajib menerima dan menghormati kepercayaan orang yang beragama itu. Dasarnya ialah keyakinan masing-masing.
Kebenaran
            Kebenaran atau benar amat penting bagi manusia. Setiap orang mendambakannya, karena ia mempunyai arti khusus bagi hidupnya. Ia merupakan fokus dari segala pikiran, sikap dan perasaan.
            Dalam tingkah laku,ucapan,perbuatan manusia selalu berhati-hati agar mereka tidak mcnyimpang dan kebenaran.Manusia sadar, bahwa ketidakbenaran dalam bertindak , berucap maupun bertindak dapat mencemarkan atau menjatuhkan namanya, seperti peribahasa yang mengatakan, “sekali lancung ke ujian, selama hidup orang tak percaya”, karena itu, wajadah kalau ketidakbenaran dapat berakibat kegelisahan, ketidakpastian, dan kedukaan.
            Dalam  agama  Budha  ada ajaran yang dinamakan  “jalan  utama  delapan  ruang”. Yang isinya,  agar setiap pemeluknya  memiliki pandangan  yang benar, perbuatan  yang benar,  mata percaharian   yang  benar,  permatian  yang benar,  dan  konsentrasi  yang  benar.
Tujuan  ajaran itu agar pemeluknya  tidak mengalami  duka, kegelisahan,dan ketidakpastian.
Ajaran  kebenaran  itu juga  kita temui  dalam agama-agama  lain.
Jelaslah bagi kita, bahwa kebenaran atau benar merupakan  kunci kebahagiaan  manusia. Itulah   sebabnya   manusia selalu berusaha mencari  mempertahankan, mernperjuangkan kebenaran. Dr.Yuyun  Suriasumantri  dalam bukunya  “filsafat  IImu, sebuah pengantar  Populer  ada tiga teori  kebenaran  sebagai  berikut  :
1)    Teori  koherensi  atau konsistensi
            Yaitu suatu pemyataan dianggap benar bila pemyataan itu bersifat koherensi atau konsisten dengan  pemyataan-pemyataan    sebelumnya  yang  dianggap  benar.
Contoh  : setiap  manusia  akan mati.  Paul  Manusia.  Paul  akan mati
2)    Teori  korespondensi
            Suatu  teori  yang  menjalankan  bahwa  suatu pemyataan  benar  bila  materi  pengetahuan yang dikandung  pemyataan  itu berkorenponden(berhubungan)  dengan obyek yang dituju oleh  pernyataan   tersebut.
Contoh  : Jakarta  itu ibukota  republik  Indonesia
3)    Teori  pragrnatis
            Kebenaran  suatu pemyataan  diukur dengan  kriteria  apakah  pemyataan  tersebut  bersifat fungsional  dalam  kehidupan  praktis.
            Dalam  berbagai  jenis  kebenaran tersebut  yang  selalu  diusahakan   dan  dijaga  ialah kebenaran dalam bertindak, berbuat, berucap, berupaya, dan berpendapat, Sebab ketidakbenaran dalam  hal-hal  itu  akan  langsung  mencemarkan atau menjatuhkan  nama  baiknya,  sehingga orang  tidak  mempercayainya   lagi.

2.4 Berbagai Kepercayaan dan Usaha Mengingatkannya 

            Dasar kepercayaan  adalah kebenaran. Sumber kebenaran  adalah manusia. Kepercayaan itu dapat  dibedakan  atas  :
1.   Kepercayaan pada diri sendiri
            Kepercayaan  pada diri sendiri itu ditanarnkan setiap pribadi manusia. Percaya  pada diri sendiri pada hakekatnya percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, Percaya pada diri sendiri, menganggap  dirinya tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan yang diserahkan atau dipercayakan   kepadanya.
2.    Kepercayaan  kepada  orang lain
            Percaya kepada orang lain itu dapat berupa percaya kepada saudara, orang tua, guru, atau siapa saja. Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya terhadap kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenarannya. Ada ucapan yang berbunyi orang itu dipercaya karena ucapannya. Misalnya, orang yang berjanji sesuatu harus dipenuhi, meskipun janji itu tidak terdengar orang lain, apalagi membuat janji kepada orang lain.
3.   Kepercayaan kepada pemerintah
            Berdasarkan pandanganteokratis menurut etika, filsafat tingkah laku karya Prof.Ir.Poedjawiyatna, negara itu berasal dari Tuhan. Tuhan langsung memerintah dan memimpin bangsa manusia, atau setidak-tidaknya Tuhanlah pemilik kedaulatan sejati, Karena semua adalah ciptaan Tuhan. Semua mengemban kewibawaan, terutama pengemban tertinggi, yaitu raja, langsung dikaruniai kewibawaan oleh Tuhan, sebab langsung dipilih oleh Tuhan pula (kerajaan).
            Pandangan demokratis mengatakanbahwa kedaulatan adalah dari rakyat, (kewibawaan pun milik rakyat. Rakyat adalah negara, rakyat itu menjelma pada negara. Satu-satunya realitas adalah negara). Manusia sebagai seorang (individu) tak berarti. Orang. mempunyai arti  hanya dalam masyarakat, negara. Hanya negara sebagai keutuhan (totalitas) yang ada, kedaulatan mutlak pada negara, negara demikian itu disebut negara totaliter. satu-satunya yang mempunyai hak ialah negara; manusia perorangan tidak mempunyai hak, ia hanya mempunyai kewajiban (negara diktator)
            Jelaslah bagi kita, baik teori atau pandangan teokratis ataupun demokratis negara atau pemerintah itu benar, karena Tuhan adalah sumber kebenaran. Karcna itu wajarlah kalau manusia sebagai warga negara percaya kepada negara/pemerintah.
4.   Kepercayaan kepada Tuhan
            Kepercayaan kepada Tuhan yang maha kuasa itu amat penting, karena keberadaan manusia itu bukan dengan sendirinya, tctapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan kebenaran. Kepercayaanitu amat penting, karena merupakan tali kuat yang dapat menghubungkan rasa manusia dcngan Tuhannya. Bagaimana Tuhan dapat menolong umatnya, apabila umat itu tidak mcmpunyai kepercayaan kcpada Tuhannya, sebab tidak ada tali penghubung yang mengalirkan daya kekuatannya. Oleh karcna itu jika manusia  berusaha agar mendapat pertolongan dari padanya, manusia harus percaya kcpada Tuhan, sebab Tuhanlah yang selalu menyertai manusia. Kepercayaan atau pengakuan akan adanya zat yang maha tinggi yang menciptakan alam semesta seisinya merupakan konsekoensinya tiap-tiap umat beragama dalam melakukan pemujaan kcpada zat tersebut.
            Berbagai usaha dilakukan manusia untuk meningkatkan  rasa percaya kepada Tuhannya. Usaha  itu  bergantung   kepada  pribadi  kondisi, situasi, dan  lingkungan. Usaha itu antara lain :
a)  meningkatkan   ketaqwaan  kita dengan jalan  meningkatkan   ibadah
b)  meningkatkan   pengabdian  kita kepada  masyarakat
c)  meningkatkan   kecintaan   kita  kepada  sesama  manusia  dengan  jalan   suka  menolong. dermawan,  dan  sebagainya
d)  mengurangi  nafsu  mengumpulkan harta  yang berlebihan
e)    menekan  perasaan  negatif  seperti  iri, dengki, fitnah, dan sebagainya
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Pada hakekatnya pandangan hidup dan manusia itu sangat berkaitan dan sangat dibutuhkan. Karena pandangan hidup merupakan adalah pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan,petunjuk hidup didunia. Pandangan hidup manusia harus direalisasikan dalam hal yang baik dan positif. Hal-hal yang bisa membentuk pandangan hidup manusia  diantaranya faktor kondisi, faktor lingkungan, serta faktor dari dalam diri manusia itu sendiri. Dan unsur-unsur dari pandangan hidup manusia yaitu cita-cita, kebajikan, usaha/pekerjaan dan kepercayaan/keyakinan.
3.2 Saran 

       Dengan pembahasan makalah tentang manusia dan pandangan hidup ini, kita dapat mengetahui pandangan hidup untuk manusia serta berbagai hal serta unsur-unsur pembentuknya. Dan kita bisa mengimplementasikan pandangan hidup tersebutdalam hal positif.


sumber : 
Buku IBD Drs. DJOKO WIDAGDHO, dkk

IBD Bab 10 : Manusia dan Kegelisahan

MANUSIA DAN KEGELISAHAN 


Daftar Isi


BAB I PENDAHULUAN  

  


1.1 Latar Belakang       



BAB II PEMBAHASAN      



2.1  Pengertian Kegelisahan     


2.2 Sebab-Sebab Orang Gelisah       

2.3 Usaha-Usaha Mengatasi Kegelisahan 


2.4 Keterasingan  

2.5 Kesepian 

2.6 Ketidakpastian

2.7 Sebab-sebab terjadi ketidakpastian 

2.8 Usaha-Usaha Mengatasi Ketidakpastian

   

BAB III  PENUTUP 


 

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran 


BAB I PENDAHULUAN  

  
 1.1 Latar Belakang  

     Manusia terkadang pernah mengalami beberapa permasalahan yang dapat membuat seseorang mengalami kegelisahan. Kegelisahan berasal dari kata gelisah yang berartikan  tidak tentram hatinya atau cemas. Kegelisahan dapat diketahui melalui gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu.
Nyatanya banyak hal yang menyebabkan seseorang menjadi gelisah. Diantaranya ada perasaan tidak tenang dan lain sebagainya. Timbulnya rasa gelisah didalam diri manusia dapat disebabkan karena ada rasa takut yang berlebihan karena takut kehilangan atas hak nya dan penyebab yang lain nya.
Dalam menghilangkan perasaan gelisah, ada beberapa cara yang perlu kita ketahui dalam mengatasi kegelisahan. Diantaranya dengan bersikap tenang dan memerlukan sedikit pemikiran untuk intropeksi diri. Apabila kita sudah mengetahui beberapa cara untuk mengatasi kegelisahan, maka perasaan gelisah dapat dihilangkan atau diatasi. Sesuai dengan penjelasan diatas, di dalam makalah ini akan lebih dibahas tentang manusia dan kegelisahan.

BAB II PEMBAHASAN  
    

2.1  Pengertian Kegelisahan 

Kegelisahan berasal dari kata gelisah (bukan geli-geli basah lho, hehehe) , yang berarti tidak tenteram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tenteram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan.
        Banyak yang menilai kegelisahan ada macam-macam diantaranya adalah kegelisahan negatif dan positif yang di artikan sebagai berikut :
1.  Kegelisahan Negatif  :  kegelisahan yang berlebih-lebihan, atau yang melewati batas, yaitu kegelisahan yang berhenti pada titik merasakan kelemahan, di mana orang yang mengalaminya sama sekali tidak bisa melakukan perubahan positif atau langkah-langkah konkret untuk berubah atau mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu kegelisahan dalam ‘menanti-nanti’ sesuatu yang tidak jelas atau tidak ada. Tentu saja hal ini merupakan ancaman bagi eksistensi manusia sebagai kesatuan yang integral.
2. Kegelisahan Positif  :  Dasar kehidupan atau sebagai kesadaran yang dapat menjadi spirit dalam memecahkan banyak permasalahan, atau sebagai tanda peringatan, kehati-hatian dan kewaspadaan terhadap bahaya-bahaya atau hal-hal yang datang secara tiba-tiba dan tak terduga. Ia juga merupakan kekuatan dalam menghadapi kondisi-kondisi baru dan dapat membantu dalam beradaptasi. Singkatnya, ia merupakan faktor penting yang dibutuhkan manusia. Sedangkan “kegelisahan negatif” jelas sangat membahayakan, seperti gula pada darah; ketika ketinggian kadarnya membahayakan kesehatan manusia.

    
2.2 Sebab-Sebab Orang Gelisah       

Gelisah terkadang membuat seseorang tidak nyaman. Kegelisahan berasal
dari kata gelisah yang berarti tidak tentram hatinya, selalu merasa khawatir,
dan cemas. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan orang-orang menjadi
gelisah. Diantaranya :
1. Panik

    Panik adalah sebuah perasaan dari ketakutan dan kecemasan. Panik merupakan ketakutan dan kecemasan yang terjadi secara mendadak dari sebuah peristiwa yang terjadi. Rasa panik dapat menyebabkan seseorang menjadi gelisah.
Dengan adanya rasa panik otomatis timbulnya perasaan tidak tenang dan
mengakibatkan seseorang menjadi gelisah.
2. Kesulitan ekonomi

    Kesulitan ekonomi merupakan kesulitan yang dialami ketika seseorang merasakan kondisi sulit dalam kehidupan ekonomi. Seperti hal nya tidak mempunyai uang atau kelangkaan dalam suatu barang pemuas kebutuhan. Dengan adanya kesulitan ekonomi, ada beberapa orang yang merasa terdesak dan gelisah untuk berfikir bagaimana caranya agar bisa menyelesaikan kesulitan ekonomi tersebut.
3. Persiapan yang tidak matang

    Segala sesuatu kegiatan yang dilakukan, harus dengan persiapan yang matang. Apabila kita akan melakukan sesuatu  tetapi  belum ada persiapan yang matang, maka dapat terjadi kegelisahan. Contoh nya seperti dalam menghadapi ujian, tetapi  belum ada persiapan yang matang dalam menjalani ujian tersebut, maka kemungkinan perasaan gelisah akan timbul.

2.3 Usaha-Usaha Mengatasi Kegelisahan 

Kegelisahan nyatanya membuat  pikiran dan perasaan seseorang merasa tidak nyaman. Ada beberapa usaha – usaha yang perlu kita ketahui untuk mengatasi kegelisahan, diantara nya :
1. Bersikap tenang

    Tenang merupakan sikap mengontrol perasaan menjadi rileks. Pada saat seseorang merasa gelisah, sikap tenang dapat membantu menghilangkan atau mengurangi
kegelisahan dengan me rileks kan perasaan serta fikiran.
2.  Intropeksi diri

     Pada saat gelisah, intropeksi diri sangat diperlukan untuk membantu menghilangkanperasaan gelisah. Dengan adanya intropeksi diri seseorang akan mulai berfikir apa penyebab
kegelisahan nya dan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan nya tanpa harus
merasa gelisah.
3.Berserah diri kepada Tuhan

    Kegelisahan terkadang membuat diri seseorang lupa akan ada nya Tuhan
yang selalu siap membantu . Apapun yang membuat kita gelisah, apabila kita
memasrahkan diri kepada tuhan kemungkinan tuhan akan memberikan jalan keluar
dari kegelisahan yang kita alami.
4.Bercerita kepada seseorang

   Apabila sedang mengalami kegelisahan, alangkah baik nya apabila seseorang dapat menceritakan permasalahan yangmembuatnya gelisah. Dengan adanya bercerita kepada seseorang, permasalahan yangsedang dialami bisa mendapatkankan pendapat ataupun saran. Jadi kemungkinan kegelisahan tidak akan bertambah dengan adanya pendapat atau saran yang diterima.

2.4 Keterasingan  

Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata ini berasal dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang. Sehingga kata terasing berarti tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain atau terpencil. Jadi kata keterasingan berarti hal – hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain. Terasing atau keterasingan adalah bagian hidup manusia. Sebentar atau lama orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan, sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain.

2.5 Kesepian 

      Kesepian berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau lenggang, sehingga kata kesepian berarti merasa sunyi atau lengang, tidak berteman. Setiap orang pernah mengalami kesepian, karena kesepian bagian hidup manusia. Lama rasa sepi itu bergantung kepada mental orang dan kasus penyebabnya. Kesepian itu akibat dari keterasingan. Keterasingan dapat disebabkan sikap buruk seperti sombong, angkuh, keras kepala, yang membuat manusia diasingkan oleh kehidupan sosialnya.
2.6 Ketidakpastian

      Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu, tidak dapat ditentukan, tanpa arah yang jelas atau tanpa usul-usul yang jelas. Ketidakpastian adalah sebutan yang digunakan dengan berbagai cara disejumlah bidang termaksud filosofi,fisika, statistika dan lain-lain nya.

2.8 Usaha-Usaha Mengatasi Ketidakpastian

1. Konsultasi

    Untuk dapat menghilangkan atau menyembuhkan ketidakpastian tersebut tergantung kepada mental penderita bagaimana cara seorang penderita tersebut dapat  mengatasi ketidakpastian nya. Bisa dengan cara konsultasi kepada teman atau kepada seorang psikolog untuk memberikan arahan dan saran untuk menyelesaikan ketidakpastian nya.
2. Berfikir logis

        Dengan adanya ketidakpastian, dibutuhkan cara berpikir yang logis untuk menentukan putusan dari ketidakpastian. Berpikir yang logis dapat memudahkan dalam menemukan keputusan ketidakpastian.
CONTOH KASUS 

Kegelisahan Dalam Menghadapi Kemiskinan
Amerika Serikat sebagainegara maju  pernah menghadapi masalah
kemiskinan, terutama pada masa resesi ekonomi tahun 1930-an. Bahkan, tahun
1960-an Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia.
Sebagian besar penduduknya hidup dalam kecukupan, Amerika Serikat juga telah
banyak memberi bantuan kepada negara-negara lain. Namun, di balik keadaan itu
tercatat sebanyak 32 juta orang atau 1/6 dari jumlah penduduknya tergolong
miskin.

Bank Dunia (World Bank) mengidentifikasikan penyebab kemiskinan dari perspektif akses dari individu terhadap sejumlah aset yang penting dalam menunjang kehidupan, yakni aset dasar kehidupan (misalnya kesehatan dan ketrampilan/pengetahuan), aset
alam (misalnya tanah pertanian atau lahan olahan), aset fisik (misalnya modal,
sarana produksi dan infrastruktur), aset keuangan (misalnya kredit bank dan
pinjaman lainnya) dan aset sosial (misalnya jaminan sosial dan hak-hak
politik). Ketiadaan akses dari satu atau lebih dari aset-aset diatas adalah
penyebab seseorang jatuh terjerembab kedalam kemiskinan dan menyebabkan suatu
kegelisahan.

Dari perspektif lapangan kerja, gambaran umum solusi untuk mengatasi kegelisahan dalam menghadapi kemiskinan dengan membuka akses bagi individu pada seluruh sumber daya. Misalnya, dengan memberikan akses bagi individu miskin pada ketersediaan lahan olahan ditambah dengan skema pinjaman yang menarik dan ketersediaan infrastruktur yang diperlukan, akan memungkinkan individu miskin tersebut untuk meningkatkan produktifitasnya sehingga dalam waktu tertentu dapat diharapkan individu miskin tersebut akan sanggup memenuhi kebutuhannya yang pada akhirnya akan meningkatkan taraf hidupanya.

Namun selain membuka akses yang ada diatas, masih diperlukan satu langkah penting
lainnya untuk menghadapi kegelisahan kemiskinan, dengan memberikan jaminan
sosial kepada individu tertentu yang berhadapan dengan segenap keterbatasan
misalnya orang-orang cacat dan lanjut usia
   
BAB III  PENUTUP 


3.1 Kesimpulan

Dari uraian pembahasan mengenai MANUSIA dan KEGELISAHAN yang telah kami paparkan pada bab terdahulu, maka kami dapat menyimpulkan bahwa kegelisahan merupakan bagian hidup manusia. Tiap manusia, dengan tidak memperdulikan  segala latar belakang dan kemampuannya, pasti akan mengalami kegelisahan, entah sebentar atau lama, relative ringan ataupun berat. Yang demikian ini boleh jadi sangat wajar mengingat manusia mempunyai hati dan perasaan.
Berbicara tentang manusia, berbicara pula tentang media tempat manusia hidup yaitu Dunia. Untuk bisa memahami hakikat manusia maka harus pula memahami hakikat dunia dan hakikat kehidupan manusia didunia. Pada dasarnya konsep mendiami dunia mengandung arti pemenuhan kebutuhan atas aspek-aspek yang membentuk manusia. Apabila manusia tidak bisa menjaga hakikat dirinya dan hakikat hidupnya maka yang timbul adalah kegelisahan .sumber dari kegelisahan adalah hawa nafsu dan sikap pamrih (tidak ikhlas). Kedua hal ini akan menyebabkan munculnya sikap keserakahan dan konflik yang juga memunculkan ketakutan, kekecewaan, dan pada akhirnya adalah kegelisahan.
Adapun bentuk-bentuk kegelisahan berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian mempunyai hubungan yang erat dan mempengaruhi satu sama lain. Keterasingan dalam satu dan lain kesempatan bisa membuahkan kegelisahan. Dan sebaliknya, kegelisahan yang begitu hebat bisa saja menimbulkan keterasingan. Kemudian dari keterasingan yang dialami seseorang  bisa saja menciptakan kondisi kesepian dan karena kesepian itupun bisa saja menimbulkan ketidakpastian. Keterasingan bisa jadi merupakan  perilaku sosiopatik dan sikap apatis yang tidak menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan tidak bisa hidup sendiri.
Untuk mengatasi kegelisahan yang dialami manusia, cara yang paling ampuh adalah kita dituntut untuk bersifat qana’ah (berpikir positif) kembalikan semuanya kepada Allah SWT dan selalu mengingat Dia 

3.2  Saran

Dari uraian pembahasan mengenai MANUSIA dan KEGELISAHAN yang telah kami paparkan pada makalah di atas, maka kami sebagai penulis dapat menyimpulkan bahwa kegelisahan merupakan bagian hidup manusia. Tiap manusia, dengan tidak memperdulikan  segala latar belakang dan kemampuannya, pasti akan mengalami kegelisahan, entah sebentar atau lama, relative ringan ataupun berat. Yang demikian ini boleh jadi sangat wajar mengingat manusia mempunyai hati dan perasaan.
Kami sebagai penulis memberikan saran agar kita selalu bersifat qana’ah (berfikir positif) kembalikan semuanya kepada Allah SWT dan selalu mengingat Allah SWT. Kami penulis hanya dapat memberikan saran.
Sumber : 
http://mi.scribd.com/doc/3039466/Manusia dan Kegelisahan